Minggu, 25 Mei 2025

Dia Ngga Selingkuh, Tapi dia….

Katanya, dia nggak selingkuh.

Tapi kenapa hati ini rasanya lebih hancur dari ditinggal karena orang ketiga?


Aku masih ingat saat pertama kali jatuh cinta padanya. Tatapannya tajam, omongannya blak-blakan, dan caranya berdiri seolah dunia harus tunduk padanya. Dulu aku pikir itu karisma. Tapi sekarang, aku sadar... mungkin itu cuma keras kepala yang dibungkus dengan ego.


Setiap hari, aku belajar memahami dia. Aku belajar menahan kata saat dia marah, belajar diam saat dia menyalahkan, belajar sabar saat dia mulai menuduh tanpa dasar. Katanya itu cuma karena dia capek, katanya itu cuma cara dia menunjukkan “sayang.” Tapi capek juga hati ini kalau harus terus jadi tempat pelampiasan.


Dia nggak pernah selingkuh.

Tapi dia sering mengkhianati perasaanku.


Gimana rasanya dicintai seseorang yang maunya dimengerti, tapi nggak pernah mau mengerti?

Yang bicaranya selalu kasar, tapi minta dipahami karena katanya "emang aku begini orangnya"?

Yang selalu merasa paling benar, dan saat salah pun, tetap mencari cara menyalahkanku?

Yang lebih menyakitkan, dia nggak pernah lihat apa yang sudah aku perjuangkan.

Usaha kecil yang aku lakukan, waktu yang aku sisihkan, kesabaran yang aku latih tiap hari semua dianggap biasa. Seolah itu memang sudah tugas dan kewajibanku untuk menanggung dia yang nggak pernah mau berubah.

Aku nggak minta dia sempurna. Aku cuma ingin dia melihat aku sebagai manusia, bukan alat pengertian tanpa batas.

Dia nggak selingkuh. Tapi kadang aku iri sama orang yang diselingkuhi. Setidaknya mereka punya alasan jelas untuk pergi.

Aku? Aku terjebak dalam hubungan tanpa luka fisik, tapi penuh luka batin yang tak terlihat.

Lucunya, dia selalu bilang sayang. Tapi entah kenapa, hatiku makin lama makin kering.

Mungkin ini bukan tentang siapa yang berselingkuh.

Ini tentang siapa yang lelah lebih dulu.

Dan kali ini, mungkin… aku yang menyerah.

Karena dia nggak selingkuh. Tapi dia juga nggak pernah benar-benar mencintaiku seperti aku mencintainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pagi yang Tak Sekadar Sarapan

Pukul 08.37 pagi itu, udara terasa segar, ditemani aroma santan yang menggoda dari dua piring Lontong Sayur dan Kupat Sayur yang tersaji di ...