Namaku Haikal, atau sering dipanggil Ikal. Pacarku, Annisa, yang biasa kupanggil dengan sebutan sayang "Seng," adalahseseorang yang luar biasa. Dia cerdas, rajin, dan selalu punya cara untuk membuatku tertawa, meskipun kadang dia sendiritenggelam dalam riuh dan kerungsingan dunianya.
Ica adalah sosok yang berbeda dariku. Jika aku lebih sabar dan cenderung tenang, dia adalah kebalikannya. Dia penuhsemangat, cepat tanggap, tetapi kadang sulit mengendalikanemosi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Selamabeberapa bulan terakhir, ketika dia menyusun proposalnya, akusering melihatnya berkutat dengan laptop, buku, dan tumpukankertas.
Tanggal 23 Desember 2024, hari yang kami tunggu-tungguakhirnya tiba. Pagi itu, aku ingin mengantarnya ke kampus akan tetapi aku masih tertidur. Dia terlihat gugup, tetapi aku tahu diasudah mempersiapkan semuanya dengan baik.
“Seng, kamupasti bisa. Ingat, kamu sudah belajar keras untuk ini,” katakusebelum dia masuk ke ruang seminar. Dia mengangguk, menggenggam tanganku sejenak, lalu melangkah masuk.
Hari ini, akuingin menceritakan tentang perjuangannya, tentang bagaimanadia menghadapi seminar proposal (sempro) yang penuhrintangan, dan bagaimana aku bisa menjadi bagian kecil dariperjalanan hebatnya.
Ada saat-saat dia tertawa karena menemukan ide baru, tetapi lebih sering aku mendengar keluhan kecilnya tentangbimbingan yang sulit atau revisi yang tak kunjung selesai.
Seng, kenapa dosen ini kayak nggak paham sama maksud aku, ya?” keluhnya suatu malam. Aku hanya tersenyum, mencobamenenangkan. “Mungkin Seng perlu cara lain untukmenjelaskan. Coba kasih contoh yang lebih sederhana,” jawabku. Dia mendengus, tetapi beberapa saat kemudian, akumelihatnya kembali mengetik dengan semangat.
Ica memang seperti itu. Dia bisa kesal, bahkan menjengkelkan, tetapi di balik semua itu, dia tangguh. Ada banyak hal yang diahadapi selain bimbingan yang sulit. Misalnya, dia harusmengatur waktu antara belajar, menghafal materi, dan membantu keluarganya di rumah.
Ada juga momen-momenketika dia merasa tidak percaya diri, bertanya-tanya apakah diacukup pintar untuk menyelesaikan semuanya. Namun, setiapkali dia merasa terjatuh, dia selalu bangkit dengan senyum yang menginspirasi.
Pada suatu malam menjelang seminar proposal (sempro), akumeneleponnya. Di layar, kulihat dia duduk di meja belajarnya. Matanya tampak lelah, tetapi tetap fokus membaca denganserius.
"Gimana, sayang? Ada yang bisa aku bantu?" tanyaku.
Dia tersenyum tipis dan menjawab, "Aman aja, Seng."
"Ya sudah, aku mau lanjut belajar," tambahnya. "Nanti satu jam lagi aku telepon atau video call kamu, ya."
Sesuai janjinya, satu jam kemudian dia meneleponku.
Kami melakukan video call sekaligus latihan untuk persiapan sempro. Saat latihan, aku melontarkan berbagai pertanyaan dan mencobamengujinya.
Alhamdulillah, dia selalu bisa menjawab denganbaik.
Setelah selesai, aku berkata, "Seng, istirahat dulu, ya? Besokmasih ada waktu."
Dia menatapku, tersenyum kecil, lalu menjawab, "Aku harusselesaikan ini dulu, Seng. Kalau nggak sekarang, aku takutnggak sempat."
Aku hanya mengangguk, bangga melihat tekadnya.
Waktu terasa begitu cepat hingga akhirnya aku sampai di kampusnya. Ketika aku bertemu dengannya, dia menyambutkudengan senyum lebar dan penuh kegembiraan.
"Aku sudah selesai sempronya, Seng! Aku berhasil sempro!" serunya dengan semangat.
Tanpa ragu, aku langsung merangkulnya dan mengelus bahunya, merasa begitu bangga. "Seng, kamu hebat. Aku tahu kamu bisa," kataku sambil tersenyum penuh kebanggaan.
Setelah itu, atau tepatnya pada siang harinya, aku memberinyasebuah hadiah kecil yang sudah kusiapkan dengan penuhperhatian. Hadiah itu terdiri dari sebuah sepatu, buket bunga, dan beberapa snack atau jajanan favoritnya. Aku juga menyelipkan sebuah catatan di dalam buket tersebut yang bertuliskan, "Untuk Ica, Sang Pejuang Hebat."
Di dalam catatan itu, aku menuliskan kata-kata penyemangatuntuk setiap tahap yang masih harus dia lewati, sebagai bentukdukungan dan harapan agar dia terus maju dan sukses.
Ketika dia membuka hadiah itu, matanya langsung berbinar-binar, penuh kebahagiaan. "Seng, makasih banyak. Ini berartibanget buat aku," katanya sambil tersenyum lebar, menunjukkanbetapa berharganya hadiah itu baginya.
Ica masih punya banyak tahapan yang harus dia lewati, tetapisampai sejauh ini, aku tetap mengaguminya. Dia adalah orang yang hebat, bukan hanya karena dia pintar atau rajin, tetapikarena dia selalu berjuang, meskipun rintangan di depannyabegitu besar.
Aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dariperjalanannya, menjadi seseorang yang bisa mendukungnya di saat-saat sulit.
Perjuangan ini belum selesai, tetapi aku tahu, selama kami saling mendukung, tidak ada yang tidak bisa kami lewati. UntukSeng-ku yang hebat, aku selalu ada di sini, siap menjadipendampingmu dalam setiap langkah perjalananmu.