Senin, 23 Desember 2024

Usaha Sempro

Namaku Haikal, atau sering dipanggil IkalPacarkuAnnisa, yang biasa kupanggil dengan sebutan sayang "Seng," adalahseseorang yang luar biasaDia cerdasrajin, dan selalu punya cara untuk membuatku tertawameskipun kadang dia sendiritenggelam dalam riuh dan kerungsingan dunianya.

Ica adalah sosok yang berbeda dariku. Jika aku lebih sabar dan cenderung tenangdia adalah kebalikannyaDia penuhsemangatcepat tanggaptetapi kadang sulit mengendalikanemosi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana
Selamabeberapa bulan terakhirketika dia menyusun proposalnyaakusering melihatnya berkutat dengan laptop, buku, dan tumpukankertas.
Tanggal 23 Desember 2024, hari yang kami tunggu-tungguakhirnya tiba. Pagi ituaku ingin mengantarnya ke kampus akan tetapi aku masih tertidurDia terlihat guguptetapi aku tahu diasudah mempersiapkan semuanya dengan baik

“Seng, kamupasti bisaIngatkamu sudah belajar keras untuk ini,” katakusebelum dia masuk ke ruang seminar. Dia menganggukmenggenggam tanganku sejenaklalu melangkah masuk.

Hari iniakuingin menceritakan tentang perjuangannyatentang bagaimanadia menghadapi seminar proposal (sempro) yang penuhrintangan, dan bagaimana aku bisa menjadi bagian kecil dariperjalanan hebatnya.

Ada saat-saat dia tertawa karena menemukan ide barutetapi lebih sering aku mendengar keluhan kecilnya tentangbimbingan yang sulit atau revisi yang tak kunjung selesai.

Seng, kenapa dosen ini kayak nggak paham sama maksud akuya?” keluhnya suatu malam. Aku hanya tersenyummencobamenenangkan. “Mungkin Seng perlu cara lain untukmenjelaskanCoba kasih contoh yang lebih sederhana,” jawabkuDia mendengustetapi beberapa saat kemudianakumelihatnya kembali mengetik dengan semangat.

Ica memang seperti ituDia bisa kesalbahkan menjengkelkantetapi di balik semua itudia tangguh. Ada banyak hal yang diahadapi selain bimbingan yang sulitMisalnyadia harusmengatur waktu antara belajarmenghafal materi, dan membantu keluarganya di rumah.
Ada juga momen-momenketika dia merasa tidak percaya diribertanya-tanya apakah diacukup pintar untuk menyelesaikan semuanyaNamunsetiapkali dia merasa terjatuhdia selalu bangkit dengan senyum yang menginspirasi.

Pada suatu malam menjelang seminar proposal (sempro), akumeneleponnya. Di layarkulihat dia duduk di meja belajarnyaMatanya tampak lelahtetapi tetap fokus membaca denganserius.

"Gimanasayang? Ada yang bisa aku bantu?" tanyaku.
Dia tersenyum tipis dan menjawab, "Aman aja, Seng."
"Ya sudahaku mau lanjut belajar," tambahnya. "Nanti satu jam lagi aku telepon atau video call kamuya."
Sesuai janjinyasatu jam kemudian dia meneleponku.
Kami melakukan video call sekaligus latihan untuk persiapan semproSaat latihanaku melontarkan berbagai pertanyaan dan mencobamengujinya.

Alhamdulillah, dia selalu bisa menjawab denganbaik.
Setelah selesaiaku berkata, "Seng, istirahat duluyaBesokmasih ada waktu."

Dia menatapkutersenyum kecillalu menjawab, "Aku harusselesaikan ini dulu, Seng. Kalau nggak sekarangaku takutnggak sempat."

Aku hanya menganggukbangga melihat tekadnya.
Waktu terasa begitu cepat hingga akhirnya aku sampai di kampusnya. Ketika aku bertemu dengannyadia menyambutkudengan senyum lebar dan penuh kegembiraan.

"Aku sudah selesai sempronya, Seng! Aku berhasil sempro!" serunya dengan semangat.

Tanpa raguaku langsung merangkulnya dan mengelus bahunyamerasa begitu bangga. "Seng, kamu hebat. Aku tahu kamu bisa," kataku sambil tersenyum penuh kebanggaan.

Setelah ituatau tepatnya pada siang harinyaaku memberinyasebuah hadiah kecil yang sudah kusiapkan dengan penuhperhatianHadiah itu terdiri dari sebuah sepatubuket bunga, dan beberapa snack atau jajanan favoritnya. Aku juga menyelipkan sebuah catatan di dalam buket tersebut yang bertuliskan, "Untuk Ica, Sang Pejuang Hebat."

Di dalam catatan ituaku menuliskan kata-kata penyemangatuntuk setiap tahap yang masih harus dia lewatisebagai bentukdukungan dan harapan agar dia terus maju dan sukses.

Ketika dia membuka hadiah itumatanya langsung berbinar-binarpenuh kebahagiaan. "Seng, makasih banyakIni berartibanget buat aku," katanya sambil tersenyum lebarmenunjukkanbetapa berharganya hadiah itu baginya.

Ica masih punya banyak tahapan yang harus dia lewatitetapisampai sejauh iniaku tetap mengaguminyaDia adalah orang yang hebatbukan hanya karena dia pintar atau rajintetapikarena dia selalu berjuangmeskipun rintangan di depannyabegitu besar.
Aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dariperjalanannyamenjadi seseorang yang bisa mendukungnya di saat-saat sulit.

Perjuangan ini belum selesaitetapi aku tahuselama kami saling mendukungtidak ada yang tidak bisa kami lewatiUntukSeng-ku yang hebataku selalu ada di sinisiap menjadipendampingmu dalam setiap langkah perjalananmu.

Pagi yang Tak Sekadar Sarapan

Pukul 08.37 pagi itu, udara terasa segar, ditemani aroma santan yang menggoda dari dua piring Lontong Sayur dan Kupat Sayur yang tersaji di ...